Unsur-unsur Ekstrinsik Novel dan Cerpen

Temukan jawaban soal tugas sekolah/PR lewat Brainly brainly apps

DOWNLOAD VIA 9APPS

Unsur Extrinsik Novel dan Cerpen
Setelah memahami unsur intrinsik novel dan cerpen pada bahasan sebelumnya, sekarang kita akan membahas mengenai unsur kedua pembangun sebuah karya sastra yaitu unsur extrinsik. Dalam novel dan cerpen terdapat unsur extrinsik.

Unsur extrinsik yaitu unsur yang membangun karya sastra (dalam hal ini novel dan cerpen) dari luar karya tersebut.
Unsur extrinsik meliputi latar belakang pengarang dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya. Berikut merupakan penjelasan lebih lengkap mengenai unsur extrinsik cerpen ataupun novel.
Latar belakang pengarang
Sebuah karya sastra termasuk cerpen dan novel sangat dipengaruhi oleh latar belakang pengarangnya. Kehidupan pengarang menjadi pengalaman yang kemudian bisa memunculkan cerita berupa novel ataupun cerpen. Sebagai contoh yaitu novel yang berjudul Laskar Pelangi. Novel ini banyak dipengaruhi oleh latar belakang pengarangnya yaitu Andrea Hirata. Novel ini menceritakan kehidupan beberapa anak usia SD di pelosok Indonesia yaitu pulau Belitong.
Novel ini memiliki ciri yang khas dari penggunaan bahasa, yaitu bahasa Indonesia Melayu. Penggunaan bahasa ini tentu saja disebabkan oleh keahlian Andrea dalam bahasa tersebut. Andrea menguasai bahasa Melayu karena ia berasal dari Belitong. Selain itu kejenakaan yang dimunculkan dalam novel ini juga sangat khas dengan guyonan orang melayu, dan lagi-lagi hal tersebut karena dipengaruhi oleh sang pengarang yang memang asli dari melayu meskipun lama sekolah dan tinggal di luar negeri.
Nilai-nilai
Sebelum melanjutkan bahasan ini, apakah kalian sudah mengetahui apa itu nilai? Nilai dalam konteks ini adalah pandangan atau pengamatan manusia mengenai baik atau buruknya suatu hal. Nilai-nilai itu antara lain: nilai agama, nilai moral, nilai sosial, nilai budaya
Nilai agama adalah nilai dalam cerita yang berkaitan dengan ajaran agama tertentu. Contoh :
Ketika adzan berkumandang pukul 4 dinihari, ibu lekas bangun meski tubuh rentanya bergelayut menggapai dinding-dinding supaya tidak jatuh. Tiap subuh ia tak sekalipun lupa untuk mendoakan anaknya yang jauh dari pandangannya. Segala hal ia minta kepada Allah, hal mengenai kepentingan anaknya. Ya, kepentingan anaknya, sementara kepentingannya ia abaikan bagai angin lalu. Doa agar anaknya sehat, anaknya berlimpah rizki, dan agar anaknya selalu bahagia.
Nilai agama yang terkandung pada cerita di atas adalah seorang Ibu yang taat dan selalu berdoa kepada Allah untuk membahagiakan anaknya.

Temukan jawaban soal tugas sekolah/PR lewat Brainly brainly apps

DOWNLOAD VIA 9APPS

Nilai moral
Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Contoh :
Amak menatap orang itu dengan nanar. Apa yang diucapkan oleh mulut perempuan itu seperti sekeranjang sampah yang sudah sangat membusuk. Ini hal baru bagi Amak.
“Kau kerja di sini harus izin dulu, tak bisa sekehendak perutmu!”
Perempuan itu sudah paruh baya. Buruknya isi lidahnya mengimbas kepada keburukan wajahnya.

Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang jelek, yaitu seorang perempuan yang sangat kasar perkataanya pada orang lain.
Nilai sosial dan budaya
Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adat-istiadat yang berlaku pada suatu daerah. Contoh :
Suasana di desa yang kecil ini sudah sangat senyap malam ini, padahal waktu masih menunjukan pukul 7 malam. Suara jangkrik menggema di sudut-sudut desa. Terdengar sayup pertengkaran antara anak perempuan dengan ibunya di sebuah rumah yang terbuat dari bambu dengan lampu minyak di dindingnya.
“yung, enyong ki udu bocah cilik, enyong wis pitulas taun. Enyong pingin kaya kancane. Isa dolan nganah-ngeneh ora digoleti wong tua. Di omeli wong tua!” suara anak perempuan itu menggema di sepinya desa.
Sang ibu menimpali dengan suara yang tak kalah kerasnya “ koe ki cah wedok, ora ilok arep doaln mbengi-mbengi kaya ngene! Ora ilok! Saru!” sang anak terdiam, tidak lama kemudian terdengar suara benda pecah.
Nilai budaya yang terkandung dalam cerita di atas adalah mengenai larangan anak perempuan di Jawa untuk keluar malam. Larangan tersebut masih berlaku di desa-desa pedalaman.
Demikan pembahasan mengenai unsur extrinsik dalam novel maupun cerpen. Semoga kalian dapat memahaminya dengan mudah.

TETAP SEMANGAT BELAJAR DAN BERPRESTASI…!!!

Temukan jawaban soal tugas sekolah/PR lewat Brainly brainly apps

DOWNLOAD VIA 9APPS